Tubuhnya dibasahi cecair merah
Para penghunus senapang dan keberanian
Untuk kemerdekaan dia
Diberi nama dan diberi penghormatan
Diberi cinta dan sayang
Melodinya didendang
Oleh para pewaris ibu merdeka
Wajahnya terpampang di mana-mana
Diamati oleh para anak
Yang berlindung
Di bawah rerambut birunya
Dia diwarnai dengan warna-warna meriah
Yang menerangi gelapnya cakerawala
Dan mengindahi hidupnya
Namun hari ini
Anak-anak itu
Lupa
sudah lupa!
Dan dihantui kertas
Dibutakan kuasa
Ditulikan masa
Dirobek isi perutnya
Dicarik-carik kulitnya
Dicacah padanya tatu-tatu kebanggaan anak-anak itu
Diracun dengan asap-asap kegembiraan anak-anak itu
Hari ini
Dia makin sakit
Tenat
Menunggu masa untuk dipanggil kembali.
Sunday, 15 January 2017
Saturday, 14 January 2017
Rumput
Akulah rumput
Dibesarkan dari sebiji benih kasih
Dibaja dengan kompos sayang
Dibiak dengan cinta
Akulah rumput
Yang makin tumbuh
Tumbuh - dan tumbuh
Menghijaukan padang tandus
Yang dulunya berdebu, berpasir
Akulah rumput
Di atas ku terbentang luas
Langit biru
Bertebaran sayapnya di seluruh bumi
Kadang menangis kadang marah kadang tenang
Cukup indah!
Akulah rumput
Mencengkam tanah di bawah ku
Memberi warna pada pemandangan
Ah selesanya!
Dan
Akulah rumput
Yang dipijak-pijak gergasi berkaki dua
Yang dirobek sebahagian aku
Menjadi cebis berterbangan ke ruang udara
Oleh gergasi yang mula menangis
Tidak tahu kenapa.
Akulah rumput
Yang masih mencengkam tanah
Menikmati indahnya biru langit
dan menghijaukan padang tandus
Tanpa rasa lelah dan benci
Pada yang telah membesarkan aku
Yang membiarkan aku hirup oksigen
Dan mewarnakan dunia.
Dibesarkan dari sebiji benih kasih
Dibaja dengan kompos sayang
Dibiak dengan cinta
Akulah rumput
Yang makin tumbuh
Tumbuh - dan tumbuh
Menghijaukan padang tandus
Yang dulunya berdebu, berpasir
Akulah rumput
Di atas ku terbentang luas
Langit biru
Bertebaran sayapnya di seluruh bumi
Kadang menangis kadang marah kadang tenang
Cukup indah!
Akulah rumput
Mencengkam tanah di bawah ku
Memberi warna pada pemandangan
Ah selesanya!
Dan
Akulah rumput
Yang dipijak-pijak gergasi berkaki dua
Yang dirobek sebahagian aku
Menjadi cebis berterbangan ke ruang udara
Oleh gergasi yang mula menangis
Tidak tahu kenapa.
Akulah rumput
Yang masih mencengkam tanah
Menikmati indahnya biru langit
dan menghijaukan padang tandus
Tanpa rasa lelah dan benci
Pada yang telah membesarkan aku
Yang membiarkan aku hirup oksigen
Dan mewarnakan dunia.
Subscribe to:
Comments (Atom)