Sunday, 11 December 2016

Jam tujuh lewat sepuluh menit

Aku duduk berteleku di sini
Masih lagi, menghirup teh limau panas
Yang tidak habis-habis
Azan maghrib berkumandang
Menandakan hari esok sudah
bermula
Komputer riba menghadap aku
Memandang, dipandang
Sejadah patutnya harus dibentang
Namun aku masih di sini
Celak dan maskara patut dihapus
Namun aku masih menulis puisi
Puisi yang bukan biasa-biasa
Filem masih lagi bermain
Tapi aku?
Pandangan dalam minda entah ke mana
Rasa dalam jiwa masih ada pada dia yang tidak pasti
Telah aku cuba tiupkan perasaan ini pada yang lain
Telah aku cuba undur diri dari bingkai masa lalu
Telah aku cuba dan terus mencuba

Jam tujuh lewat sepuluh menit
Masih bisa aku lihat redupnya mata berkaca
Masih bisa aku menghirup angin malam
Ketika di padang, berjalan kita berdua
bercahayakan terang bulan

Jam tujuh lewat sepuluh menit
Masih bisa aku lihat lesung pipit mengindahkan ciptaan Tuhan
Masih bisa aku dengar suara sayup memanggil nama penuhku
Masih bisa aku lihat rona merah di wajah itu
Tersipu malu
Menerima origami pemberianku

Jam tujuh lewat sepuluh menit
Rasa ini masih ada bersama kamu.

No comments:

Post a Comment